Tulisan ‘hulontalo’ bukan ‘hulondalo’ atau ‘hulonthalo’

10 Apr 2010

Ini pikiran saya yang saya sandarkan pada pemikiran seorang ahli lingustik besar dunia, Noam Chomsy.
Chomsky bilang bahasa itu preskriptif bukan deskriptif. Artinya, segala apa yang sudah lama terjadi di masyarakat dan disepakati oleh mereka itulah yang menjadi bentuk bahasanya. Bahasa dimiliki dan diatur oleh masyarakat kebanyakan, bukan oleh orang per orang (termasuk walaupun ahli yang namun hanya seorang). Bila kita berpegang kepada arahan hanya seorang ahli maka kita menjadikan bahasa itu deskriptif.

Dalam bahasa Gorontalo masih ada yang simpang siur tentang penulisan sebenarnya untuk beberapa hal. Saya mengajak kali ini kita untuk memfokuskan pada pertanyaan kawan-kawan saya tentang penulisan:
1. hulondalo, hulonthalo, hulondhalo atau holontalo?
2. Libu’o atau libuo? Tete’o atau teteqo? … atau tete?o? (tanda tanya tidak pakai titik)

Setelah saya melihat segala bentuk bahasa di masyarakat yang telah mereka sepakati, maka saya bisa menjawabnya bahwa:
1. Penulisan dalam bahasa Gorontalo hanya mengenal nt bukan nd, nth, ndh.
2. Penulisan dalam bahasa Gorontalo tidak mengenal bunyi sisipan dan bunyi panjang.

Penjelasan singkat:

Singkat kata, dengan kaca mata preskriptif, apabila selama ini kita telah memiliki desa Huntu (di Tapa dan batudaa) serta desa Pontolo (kwandang) maka otomatis dari dulu kita telah memiliki kesepakatan bahwa penulisan ‘nt’ adalah yang kita gunakan bukan yang lainnya, (nd, nth, ndh). Penulisan yang sudah disepakati selama ini adalah ‘hulontalo’ bukan ‘hulondalo’ atau ‘hulondhalo‘, atau ‘hulonthalo’.
Logika berfikir saya tidak bisa jalan dikala ada yang berpandangan bahwa kalau begitu penulisan nama-nama desa itu harus diganti (karena salah).

Demikian pula dengan masalah bunyi sisipan.
Sebenarnya dari dulu kita sudah kenal dan sepakati penulisan Libuo, Moopangga, Daenaa.
Ada 2 masalah yang diperdebatkan:
- Bagaimana dengan kata-kata dengan pembunyian panjang sebagai pembeda makna;
- Bila tidak kenal bunyi sisipan berarti haruskan bunyi sisipan ditulis langsung?

Bgmn dengan bunyi panjang sebagai pembeda makna?
Bila kita pernah mendengar istilah homonim = satu kata bermakna lebih dari satu (kata sebunyi), maka inilah yang disebut dengan homograf.
Homograf adalah kata yg sama ejaannya dengan kata lain, tetapi berbeda lafal dan maknanya.
Kata ‘dila‘ bisa bermakna cium, tidak, lidah. Perbedaan maknanya akan nampak nanti dikala kata ini dilafalkan.

Sekarang masalah selanjutnya, apakah bunyi sisipan di bahasa Gorontalo selama ini dituliskan?
Jawabannya, ya!
Langsung kita lihat contoh;
tiyo‘ bukan ‘tio’.
suwawa’ bukan ‘suawa’

Jadi kita tidak perlu bingung lagi dengan penulisan bahasa Gorontalo. Namun kembali ke prinsip preskriptif, dengan senang hati saya menunggu apabila ada kesepakatan dominan lain yang belum sempat saya ketahui. Demi rasa bangga kita pada bahasa daerah yang kita Miliki bersama.

Tuwoto lo ta woluwo, onuhe touwoluwo ( baca: Sedekah)
Tuwoto lo ta motota, onuhe to poota lo  pongotota (baca: Sharing/Discourse)

====================================

Oleh: emanbouti
S3 linguistik UNSRAT dan the owner of bantayo_net

5

Wellcome…

27 Feb 2010

SELAMAT DATANG,

Saya sangat senang dengan kunjungan anda.

Pertemuan kita ini semoga dapat bermanfaat.

14